Sabtu, 12 September 2009

Kehidupan Di Lereng Gunung Kelud

Gunung Kelud merupakan gunung yang aktif di jawa, tepatnya di wilayah kediri dan blitar, jawa timur. Gunung yang tingginya 1113,9 m dpl ini sering dijadikan objek wisata karena suasana yang asri. Gunung kelud termasuk gunung api tipe strato dengan danau kawah.
Di wilayah blitar sekarang ada jalan khusus untuk menuju puncak yang telah dibuka beberapa bulan yang lalu. Tepatnya melalui dudun kromasan desa tulung rejo kecamatan gandusari.
6 Juni 2009, TIM crew LPM LAUN BLITAR dan mapala GATARPALA berangkat menuju kelud. Pendakian ke gunung kelud ini sengaja di lakukan dalam rangka untuk Re-Organisasi UKM mapala dan juga untuk memperingati hari Lingkunan Hidup se-dunia yang jatuh pada tanggal 5 juni. Dan LPM LAUN berniat untuk meliput kehidupan dibalik gunung kelud. Lokasi kelud dipilih dari jalan desa Tulung Rejo dusun Kromasan kecamatan Gandusasri. Jalan ini tergolong baru karena masih beberapa bulan jalan ini di buka. TIM GATARPALA dan TIM LPM LAUN berangkat sekitar pukul 16.30 WIB dari kampus menuju lokasi. Tetapi banyak kendala yang harus di hadapi. Pertama, ada beberapa kawan yang belum datang sehingga kami harus berhenti di tengah perjalanan untuk menanti hingga datang. Kedua, juga ada mahasiswa dari cabang banyak antusias yang ikut dan masih kesulitan kordinasi dalam hal keberangkatan sehingga di putuskan siapa yang berangkat duluan menanti di SMPN 1 Gandusasri, Tetapi karena yang dari kampus pusatdatang lebih dulu maka harus menanti dulu. Berhubung waktunya sudah maghrib maka diputuskan menantinya di Masjid Al-Fattah Semen Gandusari. Ditunggu sampai waktu sholat isya’ juga tak kunjung datang sehingga kawan-kawan yang sudah datang duluan melanjutkan sholat isya’. Baru sekitar pukul 19.13 WIB, kawan-kawan darii cabang tiba dan berkumpul di masjid. Setelah istirahat sejenak maka perjalanan dilanjutkan ke desa Tulung Rejo. Kami tiba di lokasi parkir sekitar pukul 20.00 WIB langsung saja Irfan selaku ketua Gatar Pala langsung ke rumah penjaga Hutan ini untuk minta izin. Setelah mendapatkan izin dilanjutkan menuju tempat parkir dan sekitar parkir juga ada lokasi untuk mendirikan tenda.
Huuh….?! Perjalanan yang melelahkan ditambah mendirikan tenda sungguh capek rasanya badan ini. Tetapi semua hilang ketika sudah dapat menyatukan perasaan bersama alam. Langsung saja alas dibentangkan langsung semua duduk. Suasana malam itui sangat mendukung pendakian ini. Karena suasana alam saat itu sangat cerah. Kebetulan juga saat itu bulan purnama sehingga menambah keindahaan langit, yang dihiasi dengan bintang-bintang. Suasana yang dingin di tengah hutan pinus juga menambah warna tersendiri dalam pendakian kali ini. Langsung perut terasa lapar, beberapa dari kami menuju sungai dekat camp. Tapi sial ternyata sungainya kering, maka terpaksa beberapa dari kami kembali ke perkampungan untuk mencari air, karena persediaan air sudah habis. Ketika air sudah tiba dengan cekatan parafin langsung dinyalakan untuk memasak. Yang pertama kali dimasak adalah mie. Perut rasanya sudah tak bisa dinego lagi rasa laparnya. Langsung saja beberapa snack dikeluarkan untuk mengganjal perut. Mie yang dimasak sudah matang. Teng….teng….teng…..waktunya makan. Terasa nikmat rasanya walaupun dengan makan seadanya. Ketika selesei memasak mie dilanjutkan untuk merebus air untuk membuat kopi. Kopi yang hangat..!!! Hmmm…..dingin-dingin minum kopi. Dengan bercengkrama sambil minum secangkir kopi,(walaupun sebenarnya tak bawa cangkir tapi hanya botol air mineral yang dipotong). Bermacam-macam saja ulah kawan-kawan malam ini. Ada yang yang sambil merebahkan tubuh sambil menatap langit dengan berpuisi, ada yang bermain musik dengan menyanyikan lagu yang sesuai dengan suasana hati, ada juga yang berdiskusi, ada juga yang sms mengabarkan suasana malam di lereng gunung ini.
Tak terasa waktu sudah larut malam, waktunya tidur…! Semua tak ada yang tidak kedinginan dan efek samping luar biasa. Yang tidak terbiasa dengan suasana dingin, tiba-tiba saat tidur pindah ditengah-tengah teman yang juga lagi tidur karena merasa dingin, tapi yang paling membuat jengkel kawan-kawan semua ketika pada saat tidur ada yang sering kentut. Wuh……baunya minta ampun dah?.
Pagi sudah datang menjelang langsung semua kembali ke perkampungan untuk sholat shubuh. Ketika sudah selesei langsung semua motor dititipkan di rumah pak Sandiman. Rumah pak sandiman paling dekat dengan hutan dan juga paling jauh dari keramaian. Ternyata semua pendaki yang lewat sini selalu menempatkan motornya di rumah ini. Semua sudah siap kembali ke camp. Tenda dibongkar. Setelah selesei dibongkar akan dilanjutkan dengan pendakian ke punacak gunung kelud. Sebelum berangkat ke Puncak semua makan roti untuk sarapan pagi. Untuk melemaskan otot-otot agar tidak kram dalam pendakian dilakukan sanam pagi dan juga untuk mengucapkan selamat pagi untuk Indonesia Raya. 1,2,3,4,5,6,7,8, hitungan untuk senam pagi yang langsung dipimpin Daroini. Badan sudah terasa hangat dan otot-otot sudah terasa lemas. Senam selesei lalu melihat peta gunung kelud walaupun sebenarnya tidak semua tahu dan bisa membaca peta tapi pura-pura saja semua melihat peta dan berlagak sok tahu. Perjalanan dimulai, beberapa berjalaan didepan untuk penyusur jalan yang lainya di belakang mengikuti yang depan jalannya pun terjal dan berliku, naik sehingga perlu tenaga ekstra.
Akhirnya sampai juga di Brak 1 di brak 1 ini semua istirahat sejenak ketika dilihat tanda di pinggir jalan pendakian jarak yang sudah di tempuh sudah dari lokasi camp. Istirahat sudah selesei perjalanan dilanjutkan. Sial….memang agak sial semua lupa bawa air yang banyak dari 16 orang hanya membawa 4 botol air mineral sehingga harus menahan haus sampai kembali.
Ada yang menarik di lereng gunung kelud yaitu tentang kehidupan orang-orang tulung rejo yang mencari nafkah dengan mencari akar pakis. Akar pakis ini digunakan untuk dijual kepada pengepul. Ketika diwawancara lebih lanjut pengepul. Rata pengepul datang dari daerah Pakis Aji Malang. Akar pakis ternyata sangat bagus untuk media tanam, terutama untuk bunga Anggrek. Tapi juyga tak menutup kemungkinan untuk bunga-bunga yang lain.
Untuk uang yang dihasilkan rata-rata tergantung dari seberapa kuat yang dibawa, Tetapi rata-rata sekali mereka mencari pakis berkisar antara 25.000 sampai 30.000. Sulit dibayangkan kami semua untuk memahami. Kita saja untuk sampai ke tempat mereka sulit sekali. Tetapi mereka hampir setiap hari mencari dan membawa pakis dari lereng gunung ke bawah tentunya sangat berat, mereka tanpa mengeluh.
Salah satunya adalah ibu Miatun. Ibu Miatun tidak setiap hari mencari pakis, biasanya ibu Miatun kira-kira tiga hari sekali mencari pakis. Perjuangan yang patut ditiru walaupun sudah tua tetapi masih mempunyai semangat untuk hidup tanpa menggantungkan orang lain. (red)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar